Selasa, 30 November 2010
Jumat, 26 November 2010
Televisi, Perlukah Bagi Anak Dan Balita Anda?
Sadar atau tidak, dewasa ini stasiun televisi swasta semakin tumbuh berkembang dengan pesatnya, tidak hanya di perkotaan saja, namun di pedesaan mengalami dampak yang serupa. Sebagai orang tua, seberapa pentingkah mengenalkan televisi kepada anak dan balita anda dan apa saja yang para orang tua perlu ketahui dalam kaitannya dengan wacana ini?
Tidak dapat dipungkiri lagi, berdasarkan fakta yang ada hampir sebagian besar dari masyarakat Indonesia memiliki setidaknya satu unt televisi di rumah masing-masing. Terlebih lagi, kebanyakan dari kita mungkin dapat menghabiskan waktu untuk menonton acara televisi hampir lebih dari sepuluh jam atau bahkan lebih. Karena sungguh, televisi memang benar-benar dibutuhkan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari seluruh pelosok tanah air. Mungkin para orang tua tidak memerlukan apa yang tengah diteliti oleh para ilmuwan tentang pengaruh televisi terhadap anak-anak kita, namun hal-hal berikut ini memang sudah sehasrunya para orang tua tahu:
• Banyak tayangan untuk anak di televisi menampilkan adegan kekerasan, vulgar, atau bahkan cenderung destruktif. Suatu ketika anda ikut menonton film kartun bersama anak atau balita anda, walaupun dikemas sebagai Film bergenre Kartun namun pada kenyataannya masih jauh seperti yang kita harapkan. Contohnya: Sponge Bob, Bugs Bunny, Shinchan dll. Potret realistis yang ada masih banyak menampilkan tindakan kekerasan yang lazimnya dilakukan orang dewasa seperti mencekik, memukul, menembak, membanting atau bahkan keinginan untuk menghancurkan lawan. Hal ini seolah hanya layaknya film untuk orang dewasa yang dikemas melalui kartun. Apabila program seperti ini terus menerus dikonsumsi oleh anak di tiap harinya, bukan tidak mungkin hal ini bakal meningkatkan kecenderungan seorang anak untuk berperilaku kasar di masa depannya.
• Pola berfikir anak-anak belumlah matang. Mereka masih belum dapat membedakan betul dan mengintepretasikan apa-apa yang mereka lihat di layar televisi layaknya kehidupan nyata. Contohnya: anak-anak terutama balita masih banyak yang menafsirkan bahwa karakter/tokoh yang mereka lihat di televisi adalah tokoh benar-benar hidup di dalam televisi mereka. Hal ini bisa memperburuk persepsi anak dan membingungkan mereka dalam mempelajari apa-apa yang nyata dan tidak nyata yang ada di dunia ini. Suatu ketika hal ini bisa menumbuhkan gambaran rasa takut, trauma, dan bahkan menjadikan hal yang dianggap berlawanan dari sudut pandang seorang anak. Untuk itulah orang tua benar-benar harus dapat memberikan dampingan dan penjelasan agar anak dan balita anda mengerti betul sesuai daya tangkap mereka.
• Menonton televisi bisa menjadikan seorang anak kecanduan atau adiktif. Semakin seorang anak sering menonton televisi, maka akan semakin besar pula keinginannya untuk melihat lagi. Pernakah anda perhatikan? seorang bayi pun suatu ketika benar-benar dibuat tidak mau memalingkan pandangan matanya dari layar kaca, terutama jika acara yang berlangsung sangat membuat dirinya penasaran dan ingin tahu. Bahkan ketika mereka mulai kecanduan, jika kita mematikan TV saat mereka masih asyik menonton bisa membuat mereka marah, menangis, atau bahkan ngambek juga. Anak yang menonton TV secara berlebih akan cenderung pasif dan secara alamiah akan kehilangan daya kreatifitas mereka. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk bermain, menjadi terbuang dihabiskan di depan layar televisi.
• Dan memang, kadangkala kita sebagai orang tua mulai menjadikan media TV sebagai "cara pintas" untuk membuat anak-anak merasa nyaman, gembira dan tidak menangis. Jika kita menggunakan jasa Baby-sitter atau pengasuh anak, terutama di kota besar, seringkali televisi seakan menjadi cara ampuh dalam melewati kesehari-harian tanpa suara rengekan dan tangisan. Cukup menyalakan program acara kartun atau menyalakan DVD maka anak akan dengan mudahnya terhipnotis dalam acara yang dilihatnya itu.
• Anak yang sering melihat TV dalam kesehariannya, secara berlebihan, akan sangat mungkin akan beresiko terkena obesitas, perkembangan sosial yang buruk, dan bahkan mungkin mempengaruhi perilakunya menjadi egois. Dalam kelanjutannya nanti di masa akan memasuki Playgroup atau ketika memasuki Taman Kanak-Kanak, secara emosional akan mudah murung, susah bersosialisasi, susah merespon dan menangkap pelajaran yang disampaikan bila dibandingkan mereka yang sedikit mengkonsumsi Televisi atau bahkan tidak sama sekali.
Jika kita bicara perlu atau tidaknya seorang anak dikenalkan kepada TV, mungkin akan berbeda sesuai dengan kebutuhan dan peran kita sebagai orang tua yang ternyata sangat berpengaruh besar pada perkembangan anak. Mungkin kita juga perlu memperhatikan sedikit tips yang dapat meminimalisir efek negatif yang mungkin terjadi dan memaksimalkan peran positif televisi untuk buah hati kita:
• Tunda dulu mengenalkan TV kepada balita anda sebisa mungkin. Ada baiknya jika menginjak sekitar usia dua tahun barulah anda mengenalkan si kecil pada televisi. Namun jika pada kenyataannya, memang, tidak mungkin bisa melarang anak melihat TV, maka sebaiknya kita jeli betul memilih program acara untuk anak, juga membatasi waktu untuk menonton televisi atau bahkan membuatnya melupakan televisi di tiap harinya. Semakin sedikit waktu untuk televisi akan semakin baik, dan tujuan anda tercapai. Kalau perlu buat jadwal untuk melihat TV, misalnya 30 menit atau sejam perhari, atau untuk acara favoritnya saja, sehingga kita tidak akan menyalakan TV terlalu sering buat buah hati kita.
• Untuk lebih baiknya anda sempatkan dulu untuk menonton acara di TV sebelum anda membolahkan anak-anak anda melihatnya. Walaupun acara untuk anak disengaja untuk memberikan pesan moral yang baik kepada kita, namun lebih baiknya kita memberikan pengertian yang cukup pada anak. Juga, secara kontinyu memberikan dampingan atau ikut melihat bersama anak/balita anda, karena memang ditemukan banyak sekali acara TV yang tak sesuai dengan porsi anak-anak, terutama tentang kekerasan.
• Beri perhatian lebih terhadap iklan yang muncul di TV. Karena pada suatu saat iklan pun juga memberi pengaruh besar kepada anak untuk menjadi terbiasa menirukan apa yang ada di iklan tersebut.
• Pilihlah program acara yang benar-benar untuk anak, yang dapat membantu meningkatkan daya kreatifitas dan imajinya. Bagi kita mungkin akan sangat terasa membosankan dalam waktu yang mungkin lama pula dengan mengikuti apa yang diinginkannya. Tetapi hal yang terpenting, lihatlah seolah kita melakukannya dari sudut pandang seorang anak.
• Jika memang dirasa perlu, lengkapilah koleksi VCD atau DVD anda dengan program untuk anak yang mendidik. Jadi jika kapanpun anda inginkan, anda dapat mengarahkan anak-anak untuk melihat program untuk anak yang sudah terjadwal, kapanpun mau melihatnya. Sehingga, dapat menjauhkan anak dari melihat acara-acara TV yang tidak perlu.
Sekali lagi dampingilah putra-putri anda menonton TV, jadi anda dapat melihat apa reaksi langsung dari anak dan balita anda. Ajukan pertanyaan kalau perlu, dan ikut mendiskusikan juga dengan mereka. Buatlah satu keputusan tepat tentang bagaimana anda sebagai seorang Orang tua menggunakan Televisi secara bijak terhadap keluarga anda, jangan memposisikan wacana ini hanya karena terpaksa atau kebetulan semata.
Tidak dapat dipungkiri lagi, berdasarkan fakta yang ada hampir sebagian besar dari masyarakat Indonesia memiliki setidaknya satu unt televisi di rumah masing-masing. Terlebih lagi, kebanyakan dari kita mungkin dapat menghabiskan waktu untuk menonton acara televisi hampir lebih dari sepuluh jam atau bahkan lebih. Karena sungguh, televisi memang benar-benar dibutuhkan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari seluruh pelosok tanah air. Mungkin para orang tua tidak memerlukan apa yang tengah diteliti oleh para ilmuwan tentang pengaruh televisi terhadap anak-anak kita, namun hal-hal berikut ini memang sudah sehasrunya para orang tua tahu:
• Banyak tayangan untuk anak di televisi menampilkan adegan kekerasan, vulgar, atau bahkan cenderung destruktif. Suatu ketika anda ikut menonton film kartun bersama anak atau balita anda, walaupun dikemas sebagai Film bergenre Kartun namun pada kenyataannya masih jauh seperti yang kita harapkan. Contohnya: Sponge Bob, Bugs Bunny, Shinchan dll. Potret realistis yang ada masih banyak menampilkan tindakan kekerasan yang lazimnya dilakukan orang dewasa seperti mencekik, memukul, menembak, membanting atau bahkan keinginan untuk menghancurkan lawan. Hal ini seolah hanya layaknya film untuk orang dewasa yang dikemas melalui kartun. Apabila program seperti ini terus menerus dikonsumsi oleh anak di tiap harinya, bukan tidak mungkin hal ini bakal meningkatkan kecenderungan seorang anak untuk berperilaku kasar di masa depannya.
• Pola berfikir anak-anak belumlah matang. Mereka masih belum dapat membedakan betul dan mengintepretasikan apa-apa yang mereka lihat di layar televisi layaknya kehidupan nyata. Contohnya: anak-anak terutama balita masih banyak yang menafsirkan bahwa karakter/tokoh yang mereka lihat di televisi adalah tokoh benar-benar hidup di dalam televisi mereka. Hal ini bisa memperburuk persepsi anak dan membingungkan mereka dalam mempelajari apa-apa yang nyata dan tidak nyata yang ada di dunia ini. Suatu ketika hal ini bisa menumbuhkan gambaran rasa takut, trauma, dan bahkan menjadikan hal yang dianggap berlawanan dari sudut pandang seorang anak. Untuk itulah orang tua benar-benar harus dapat memberikan dampingan dan penjelasan agar anak dan balita anda mengerti betul sesuai daya tangkap mereka.
• Menonton televisi bisa menjadikan seorang anak kecanduan atau adiktif. Semakin seorang anak sering menonton televisi, maka akan semakin besar pula keinginannya untuk melihat lagi. Pernakah anda perhatikan? seorang bayi pun suatu ketika benar-benar dibuat tidak mau memalingkan pandangan matanya dari layar kaca, terutama jika acara yang berlangsung sangat membuat dirinya penasaran dan ingin tahu. Bahkan ketika mereka mulai kecanduan, jika kita mematikan TV saat mereka masih asyik menonton bisa membuat mereka marah, menangis, atau bahkan ngambek juga. Anak yang menonton TV secara berlebih akan cenderung pasif dan secara alamiah akan kehilangan daya kreatifitas mereka. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk bermain, menjadi terbuang dihabiskan di depan layar televisi.
• Dan memang, kadangkala kita sebagai orang tua mulai menjadikan media TV sebagai "cara pintas" untuk membuat anak-anak merasa nyaman, gembira dan tidak menangis. Jika kita menggunakan jasa Baby-sitter atau pengasuh anak, terutama di kota besar, seringkali televisi seakan menjadi cara ampuh dalam melewati kesehari-harian tanpa suara rengekan dan tangisan. Cukup menyalakan program acara kartun atau menyalakan DVD maka anak akan dengan mudahnya terhipnotis dalam acara yang dilihatnya itu.
• Anak yang sering melihat TV dalam kesehariannya, secara berlebihan, akan sangat mungkin akan beresiko terkena obesitas, perkembangan sosial yang buruk, dan bahkan mungkin mempengaruhi perilakunya menjadi egois. Dalam kelanjutannya nanti di masa akan memasuki Playgroup atau ketika memasuki Taman Kanak-Kanak, secara emosional akan mudah murung, susah bersosialisasi, susah merespon dan menangkap pelajaran yang disampaikan bila dibandingkan mereka yang sedikit mengkonsumsi Televisi atau bahkan tidak sama sekali.
Jika kita bicara perlu atau tidaknya seorang anak dikenalkan kepada TV, mungkin akan berbeda sesuai dengan kebutuhan dan peran kita sebagai orang tua yang ternyata sangat berpengaruh besar pada perkembangan anak. Mungkin kita juga perlu memperhatikan sedikit tips yang dapat meminimalisir efek negatif yang mungkin terjadi dan memaksimalkan peran positif televisi untuk buah hati kita:
• Tunda dulu mengenalkan TV kepada balita anda sebisa mungkin. Ada baiknya jika menginjak sekitar usia dua tahun barulah anda mengenalkan si kecil pada televisi. Namun jika pada kenyataannya, memang, tidak mungkin bisa melarang anak melihat TV, maka sebaiknya kita jeli betul memilih program acara untuk anak, juga membatasi waktu untuk menonton televisi atau bahkan membuatnya melupakan televisi di tiap harinya. Semakin sedikit waktu untuk televisi akan semakin baik, dan tujuan anda tercapai. Kalau perlu buat jadwal untuk melihat TV, misalnya 30 menit atau sejam perhari, atau untuk acara favoritnya saja, sehingga kita tidak akan menyalakan TV terlalu sering buat buah hati kita.
• Untuk lebih baiknya anda sempatkan dulu untuk menonton acara di TV sebelum anda membolahkan anak-anak anda melihatnya. Walaupun acara untuk anak disengaja untuk memberikan pesan moral yang baik kepada kita, namun lebih baiknya kita memberikan pengertian yang cukup pada anak. Juga, secara kontinyu memberikan dampingan atau ikut melihat bersama anak/balita anda, karena memang ditemukan banyak sekali acara TV yang tak sesuai dengan porsi anak-anak, terutama tentang kekerasan.
• Beri perhatian lebih terhadap iklan yang muncul di TV. Karena pada suatu saat iklan pun juga memberi pengaruh besar kepada anak untuk menjadi terbiasa menirukan apa yang ada di iklan tersebut.
• Pilihlah program acara yang benar-benar untuk anak, yang dapat membantu meningkatkan daya kreatifitas dan imajinya. Bagi kita mungkin akan sangat terasa membosankan dalam waktu yang mungkin lama pula dengan mengikuti apa yang diinginkannya. Tetapi hal yang terpenting, lihatlah seolah kita melakukannya dari sudut pandang seorang anak.
• Jika memang dirasa perlu, lengkapilah koleksi VCD atau DVD anda dengan program untuk anak yang mendidik. Jadi jika kapanpun anda inginkan, anda dapat mengarahkan anak-anak untuk melihat program untuk anak yang sudah terjadwal, kapanpun mau melihatnya. Sehingga, dapat menjauhkan anak dari melihat acara-acara TV yang tidak perlu.
Sekali lagi dampingilah putra-putri anda menonton TV, jadi anda dapat melihat apa reaksi langsung dari anak dan balita anda. Ajukan pertanyaan kalau perlu, dan ikut mendiskusikan juga dengan mereka. Buatlah satu keputusan tepat tentang bagaimana anda sebagai seorang Orang tua menggunakan Televisi secara bijak terhadap keluarga anda, jangan memposisikan wacana ini hanya karena terpaksa atau kebetulan semata.
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
Yang dimaksud dengan keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal, dan keterampilan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal, apabila terdapat gangguan dalam proses belajar baik yang bersifat gangguan kecil dan sementara maupun gangguan yang berkelanjutan. (Depdikbud, 1985g: 3). Keterampilan mengelola kelas bagi siswa mempunyai tujuan untuk:
• Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
• Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.
• Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam:
• Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar secara efektif.
• Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa.
• Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus melawan di kelas.
Pada garis besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;
1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Menunjukan sikap tanggap, Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.
Membagi perhatian, Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.
Memusatkan perhatian kelompok,
Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.
Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
Menegur,
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran tidak merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
Memberi penguatan, penguatan adalah Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.
2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal
Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru. Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh damapak pengiring yang besar bila tidak bisa diselesaikan. Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
Hal-hal yang harus dihindari
Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari guru dalam mempraktekkan keterampilan mengelola kelas adalah :
1. Campur tangan yang berlebihan, campur tangan yang berlebihan dari guru kepada setiap perilaku kedirian siswa akan memberikan dampak yang kurang baik, oleh karena itu campur tangan dilakukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik di kelas.
2. Kesenyapan, proses kesenyapan memang diperlukan di kelas tapi tidak merupakan kegiatan yang berjalan dengan akumulasi yang cukup panjang, karena dapat menimbulkan perilaku yang berlebihan dari siswa dan dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan teman lainnya.
3. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan, awal dan akhir kegiatan adalah hal yang krusial bagi guru. Awal adalah pembuka jalan dalam mengorganisasikan pikiran anak untuk menemukan dan melakukan berbagai hal di kelas terutama kaitannya dengan tugasnya dan akhir adalah bentuk akumulasi tentang pemahaman atas kegiatan dan kegiatan lanjutan yang akan dilakukan siswa.
4. Penyimpangan, bentuk perilaku yang menyimpang baik secara individual maupun kaitannya dalam pelaksanaan pembelajaran.
5. Bertele-tele, kata atau kalimat yang bertele-tele dan kegiatan yang bertele-tele akan menimbulkan kebosanan dan ketidak nyamanan ketika hal itu tertuju pada satu orang saja atau pada satu pokok bahasan saja.
6. Pengulangan penjelasan yang tidak perlu, banyak hal yang baru bagi siswa yang dapat disampaikan, dan banyak hal lainnya yang juga memerlukan pengulangan. Prinsipnya adalah dimana ketika terjadi proses pengulangan adalah bentuk untuk mengkaitkan pokok bahasan, menegaskan, dan mencontohkan. Karena pengulangan bisa memunculkan persepsi yang kurang baik pada diri siswa, mungkin akan muncul anggapan bahwa guru tidak bias mengajar.
Fungsi Guru dalam Pembelajaran (Manajemen Kelas)
1. Fungsi Instruksional
Sepanjang sejarah keguruan, tugas atau fungsi guru yang sudah tradisional adalah mengajar (to teach), yaitu ; 1) menyampaikan sejumlah keterangan-keterangan dan fakta-fakta kepada murid, 2) memberikan tugas-tugas kepada mereka, dan 3) mengoreksi atau memeriksanya. Fungsi intruksional inilah yang masih selalu diutamakan oleh hampir semua orang yang disebut guru, dan fungsi instruksional ini masih dominan dalam karier besar guru.
2. Fungsi Edukasional
Fungsi guru sesungguhnya bukan hanyalah mengajar, akan tetapi juga harus mendidik (to educate). Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru harus berusaha mendidik murid-muridnya menjadi manusia dewasa.
3. Fungsi Managerial
Fungsi kepemimpinan atau managerial guru ini dalam administrasi sekolah modern tidak hanya terbatas di dalam kelas, akan tetapi juga menyangkut situasi sekolah dimana ia bekerja, bahkan menyangkut pula kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat.
• Mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya.
• Membantu siswa agar mengerti akan arah tingkah laku yang sesuai dengan tata tertib kelas, dan melihat atau merasakan teguran guru sebagai suatu peringatan dan bukan kemarahan.
• Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta bertingkah laku yang wajar sesuai dengan aktivitas-aktivitas kelas
Bagi guru, tujuan keterampilan mengelola kelas adalah untuk melatih keterampilannya dalam:
• Mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam memelihara kelancaran penyajian dan langkah-langkah proses belajar mengajar secara efektif.
• Memiliki kesadaran terhadap kebutuhan siswa dan mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pengarahan yang jelas kepada siswa.
• Memberi respon secara efektif terhadap tingkah laku siswa yang menimbulkan gangguan-gangguan kecil atau ringan serta memahami dan menguasai seperangkat kemungkinan strategi dan yang dapat digunakan dalam hubungan dengan masalah tingkah laku siswa yang berlebihan atau terus menerus melawan di kelas.
Pada garis besarnya keterampilan mengelola kelas terbagi dua bagian yaitu;
1) Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal.
Menunjukan sikap tanggap, Guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan atas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik.
Membagi perhatian, Kelas diisi lebih dari satu orang akan tetapi sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak hanya terpokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merat kepada setiap anak yang ada di dalam kelas.
Memusatkan perhatian kelompok,
Munculnya kelompok informal di kelas, atau pengelompokan karena di sengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.
Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas,
Untuk mengarahkan kelompok kedalam pusat perhatian seperti dijelaskan di atas, juga memudahkan anak menjalankan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya maka tugas guru adalah emamparkan setiap pelaksanan tugas-tugas tersebut sebagai petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan anak secara bertahap dan jelas.
Menegur,
Permasalahan bisa terjadi dalam hubungannya antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru. Permasalahan dalam hubungan tersebut bisa terjadi dalam konteks pembelajaran, sehingga guru sebagai pemegang kendali kelas harus mampu memberikan teguran yang sesuai dengan tugas dan perkembangan siswa. Sifat dari teguran tidak merupakan hal yang memberikan efek penyerta yang menimbulkan ketakutan pada siswa tapi bagaimana siswa bisa tahu dengan kesalahan yang dilakukannya.
Memberi penguatan, penguatan adalah Upaya yang diarahkan agar prestasi yang dicapai dan perilaku-perilaku yang baik dapat dipertahankan oleh siswa atau bahkan mungkin ditingkatkan dan dapat ditularkan kepada siswa lainnya. Penguatan yang dimaksudkan dapat berupa reward yang bersipat moril juga yang bersifat material tapi tidak berlebihan.
2) Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi belajar yang optimal
Memodifikasi tingkah laku
Modifikasi tingkah laku adalah menyesuaikan bentuk-bentuk tingkah laku kedalam tuntutan kegiatan pemebelajaran sehingga tidak muncul prototyfe pada diri anak tentang peniruan perilaku yang kurang baik.
Pengelolaan kelompok
Kelompok kecil ataupun kelompok belajar di kelas adalah merupakan bagaian dari pencapaian tujuan pembelajaran dan strategi yang terapkan oleh guru. Kelompok juga bias muncul secara informal seperti teman bermain, teman seperjalanan, teman karena gender dan lain-lain. Untuk kelancaran pembelajaran dan pencapaian tujuan pembelajaran maka kelompok yang ada dikelas itu harus di kelola dengan baik oleh guru.
Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.
Permasalahan memiliki sifat perennial (akan selalu ada) dan nurturan effect, oleh karena itu permasalahan akan muncul didalam kelas kaitannya dengan interaksi dan akan diikuti oleh damapak pengiring yang besar bila tidak bisa diselesaikan. Guru harus dapat mendeteksi permasalahan yang mungkin muncul dan dengan secepatnya mengambil langkah penyelesaian sehingga ada solusi untuk masalah tersebut.
Hal-hal yang harus dihindari
Beberapa kekeliruan yang perlu dihindari guru dalam mempraktekkan keterampilan mengelola kelas adalah :
1. Campur tangan yang berlebihan, campur tangan yang berlebihan dari guru kepada setiap perilaku kedirian siswa akan memberikan dampak yang kurang baik, oleh karena itu campur tangan dilakukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik di kelas.
2. Kesenyapan, proses kesenyapan memang diperlukan di kelas tapi tidak merupakan kegiatan yang berjalan dengan akumulasi yang cukup panjang, karena dapat menimbulkan perilaku yang berlebihan dari siswa dan dimanfaatkan untuk berinteraksi dengan teman lainnya.
3. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan, awal dan akhir kegiatan adalah hal yang krusial bagi guru. Awal adalah pembuka jalan dalam mengorganisasikan pikiran anak untuk menemukan dan melakukan berbagai hal di kelas terutama kaitannya dengan tugasnya dan akhir adalah bentuk akumulasi tentang pemahaman atas kegiatan dan kegiatan lanjutan yang akan dilakukan siswa.
4. Penyimpangan, bentuk perilaku yang menyimpang baik secara individual maupun kaitannya dalam pelaksanaan pembelajaran.
5. Bertele-tele, kata atau kalimat yang bertele-tele dan kegiatan yang bertele-tele akan menimbulkan kebosanan dan ketidak nyamanan ketika hal itu tertuju pada satu orang saja atau pada satu pokok bahasan saja.
6. Pengulangan penjelasan yang tidak perlu, banyak hal yang baru bagi siswa yang dapat disampaikan, dan banyak hal lainnya yang juga memerlukan pengulangan. Prinsipnya adalah dimana ketika terjadi proses pengulangan adalah bentuk untuk mengkaitkan pokok bahasan, menegaskan, dan mencontohkan. Karena pengulangan bisa memunculkan persepsi yang kurang baik pada diri siswa, mungkin akan muncul anggapan bahwa guru tidak bias mengajar.
Fungsi Guru dalam Pembelajaran (Manajemen Kelas)
1. Fungsi Instruksional
Sepanjang sejarah keguruan, tugas atau fungsi guru yang sudah tradisional adalah mengajar (to teach), yaitu ; 1) menyampaikan sejumlah keterangan-keterangan dan fakta-fakta kepada murid, 2) memberikan tugas-tugas kepada mereka, dan 3) mengoreksi atau memeriksanya. Fungsi intruksional inilah yang masih selalu diutamakan oleh hampir semua orang yang disebut guru, dan fungsi instruksional ini masih dominan dalam karier besar guru.
2. Fungsi Edukasional
Fungsi guru sesungguhnya bukan hanyalah mengajar, akan tetapi juga harus mendidik (to educate). Fungsi educational ini harus merupakan fungsi sentral guru. Dalam fungsi ini setiap guru harus berusaha mendidik murid-muridnya menjadi manusia dewasa.
3. Fungsi Managerial
Fungsi kepemimpinan atau managerial guru ini dalam administrasi sekolah modern tidak hanya terbatas di dalam kelas, akan tetapi juga menyangkut situasi sekolah dimana ia bekerja, bahkan menyangkut pula kegiatan-kegiatan di dalam masyarakat.
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS
A. Hakekat pengelolaan kelas
1. pengertian
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing pendekartan tersebut,
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter ( authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (weber)
Kedua, pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas `adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
Ketiga, pendekatan modifikasi tingkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat positif dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negative yang dilakukan oleh siswa
2. pengelolaan dan pembelajaran
pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tetapi memiliki fungsi yang sama. Pengelolaan penekanannya pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran. Sementara pembelajaraan (instruction) penekanannya pada aspek mengelola atau memproses materi pembelajaran. Dan keduanya men capai tujuan yang sama yaitu tujuan pembelajaran.
A. komponen – komponen pengelolaan kelas
untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran, maka unsure-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan yaitu:
1. Model tindakan
a) Preventif; yaitu upaya sedini mungkin yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaraan.
1) Tanggap /peka, yaitu kemampuan guru merespon terhadap prilaku atau aktifitas yang dianggap akan mengganggu pembelajaraan.
2) perhatiaan, selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul.
b) refresif,kemampuan guru untuk mengatasi, mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam lingkungan pembelajaraan.
c) modifikasi tingkah laku.
•Modifikasi tingkah laku,yaitu bahwa tingkah laku dapat diamati.
•Pengelolaan kelompok, yaitu untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan berbagai komponen atau unsure yang terkait.
•Diagnosis, yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsure-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsure-unsur yang akan menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaraan.
2. peran guru
a. mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap lingkungannya.
b. Membangun pemahaman siswa agar mengerti dan menyesuaikan tingkah lakunya dengan tata tertib kelas.
c. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta tingkahlaku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
3. Hal-hal yang harus dihindari
a. campur tangan yang berlebihan
b. kesenyapan
c. ketidak tepatan
d. penyimpangan
e. bertele-tele.
MERANCANG LATIHAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN MIKRO
A. tahapa-tahapan kegiatan
1. observasi kelas
padatahapan ini intinya meminta ijin untuk melihat kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dan kegiatan anda hanya untuk mengamati saja, duduk ditempat yang tidak mengganggu konsertasi siswa.
A.
1. menetapkan jenis keterampilan yang akan dilatihkan
pilih salah satu keterampilan dasar mengajar yang mana yang akan dilatihkan oleh anda.
A.
1. konsultasi dengan pembimbing atau pihak supervisor
setelah menetapkan keterampilan dasar mengajar yang akan dilatih, terlebih dahulu berkonsultasilah dengan pembimbing, supervisor atau orang-orang yang sudah berpelngalaman dalam hal tersebut.
A.
1. membuat perencanaan pembelajaran mikro
untuk melancarkan kegiatan tersebut, anda harus membuat perencanaan pembelajaran secara tertulis. Lihat BBM 5 kegiatan belajar ke-3.
A.
1. pembagian tugas kelompok
pelaksanaan keterampilan dasar mengajar melalui pendekatan pembelajaran mikro, biasanya menggunakan kelompok yang terdiri dari 7 s.d 8 orang yang masing – masing tuganya 1 orang sebagaiguru, 5 orang sebagai murid, dan sisanya sebagai observer.
A.
1. praktek dalam pembelajaran mikro
Suatu hal yang selalu harus diperhatiakan, dalam pelaksanaan latihan pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mikro, pada intinya adalah “mengajar sebenarnya” hanya bukan pada situasi nkelas pembelajaran sebenarnya. Oleh karena itu peru kedisiplinan setiap anggotanya dalam menjalankan perannya masing-masing.
A. Evaluasi dan tindak lanjut
Tujuan evaluasi disini adalah untuk mendapatkan masukan (umpan balik) terutama bagi setiap peserta yang berlatih, kelebihan dan kekurangan serta komentar dari pihak yang mengobservasi.
Dalam proses evaluasi ini meliputi tiga kegiatan yaitu.
1. pemutaran ulang
pemutaran ulang dilakukan terutama bila dalam proses latihan menggunakan alat perekam kamera video.
1. komentar/diskusi umpan balik
Dalam tahapan ini tidak hanya kekuranganya saja dari latihan tersebut tetapi juga hal-hal yang sudah diangap baikpun disampaikan, dddengan demikian hendaknya komentar bersifat seimbang.
1. pengertian
Pengelolaan kelas (classroom management) berdasarkan pendekatannya menurut weber (1977) diklasifikasikan kedalam tiga pengertian, yaitu berdasarkan pendekatan otoriter (autorityapproach), pendekatan permisif (permissive approach) dan pendekatan modifikasi tingkah laku. Berikut dijelaskan pengertian masing-masing pendekartan tersebut,
Pertama, berdasarkan pendekatan otoriter ( authority approach) pengelolaan kelas adalah kegiatan guru untuk mengontrol tingkah laku siswa, guru berperan menciptakan dan memelihara aturan kelas melalui penerapan disiplin secara ketat (weber)
Kedua, pendekatan permisif mengartikan pengelolaan kelas `adalah upaya yang dilakukan oleh guru untuk memberi kebebasan kepada siswa untuk melakukan berbagai aktifitas sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan fungsi guru adalah bagaimana menciptakan kondisi siswa merasa aman untuk melakukan aktifitas di dalam kelas.
Ketiga, pendekatan modifikasi tingkah laku. Pendekatan ini didasarkan pada pengelolaan kelas merupakan proses perubahan tingkah laku, jadi pengelolaan kelas merupakan upaya untuk mengembangkan dan memfasilitasi perubahan prilku yang bersifat positif dari siswa dan dan berusaha semaksimal mungkin mencegah munculnya atau memperbaiki prilaku negative yang dilakukan oleh siswa
2. pengelolaan dan pembelajaran
pengelolaan dan pembelajaran dapat dibedakan tetapi memiliki fungsi yang sama. Pengelolaan penekanannya pada aspek pengaturan (management) lingkungan pembelajaran. Sementara pembelajaraan (instruction) penekanannya pada aspek mengelola atau memproses materi pembelajaran. Dan keduanya men capai tujuan yang sama yaitu tujuan pembelajaran.
A. komponen – komponen pengelolaan kelas
untuk mendukung terjadinya proses pembelajaran, maka unsure-unsur pengelolaan meliputi dua tindakan yaitu:
1. Model tindakan
a) Preventif; yaitu upaya sedini mungkin yang dilakukan oleh guru untuk mencegah terjadinya gangguan dalam pembelajaraan.
1) Tanggap /peka, yaitu kemampuan guru merespon terhadap prilaku atau aktifitas yang dianggap akan mengganggu pembelajaraan.
2) perhatiaan, selalu mencurahkan perhatian pada berbagai aktivitas, lingkungan maupun segala sesuatu yang muncul.
b) refresif,kemampuan guru untuk mengatasi, mencari dan menemukan solusi yang tepat untuk memecahkan masalah yang terjadi dalam lingkungan pembelajaraan.
c) modifikasi tingkah laku.
•Modifikasi tingkah laku,yaitu bahwa tingkah laku dapat diamati.
•Pengelolaan kelompok, yaitu untuk menangani permasalahan hendaknya dilakukan secara kolaborasi dan mengikutsertakan berbagai komponen atau unsure yang terkait.
•Diagnosis, yaitu suatu keterampilan untuk mencari unsure-unsur yang akan menjadi penyebab gangguan maupun unsure-unsur yang akan menjadi kekuatan bagi peningkatan proses pembelajaraan.
2. peran guru
a. mendorong siswa mengembangkan tanggung jawab individu terhadap lingkungannya.
b. Membangun pemahaman siswa agar mengerti dan menyesuaikan tingkah lakunya dengan tata tertib kelas.
c. Menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas serta tingkahlaku yang sesuai dengan aktivitas kelas.
3. Hal-hal yang harus dihindari
a. campur tangan yang berlebihan
b. kesenyapan
c. ketidak tepatan
d. penyimpangan
e. bertele-tele.
MERANCANG LATIHAN KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR DALAM PEMBELAJARAN MIKRO
A. tahapa-tahapan kegiatan
1. observasi kelas
padatahapan ini intinya meminta ijin untuk melihat kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dan kegiatan anda hanya untuk mengamati saja, duduk ditempat yang tidak mengganggu konsertasi siswa.
A.
1. menetapkan jenis keterampilan yang akan dilatihkan
pilih salah satu keterampilan dasar mengajar yang mana yang akan dilatihkan oleh anda.
A.
1. konsultasi dengan pembimbing atau pihak supervisor
setelah menetapkan keterampilan dasar mengajar yang akan dilatih, terlebih dahulu berkonsultasilah dengan pembimbing, supervisor atau orang-orang yang sudah berpelngalaman dalam hal tersebut.
A.
1. membuat perencanaan pembelajaran mikro
untuk melancarkan kegiatan tersebut, anda harus membuat perencanaan pembelajaran secara tertulis. Lihat BBM 5 kegiatan belajar ke-3.
A.
1. pembagian tugas kelompok
pelaksanaan keterampilan dasar mengajar melalui pendekatan pembelajaran mikro, biasanya menggunakan kelompok yang terdiri dari 7 s.d 8 orang yang masing – masing tuganya 1 orang sebagaiguru, 5 orang sebagai murid, dan sisanya sebagai observer.
A.
1. praktek dalam pembelajaran mikro
Suatu hal yang selalu harus diperhatiakan, dalam pelaksanaan latihan pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran mikro, pada intinya adalah “mengajar sebenarnya” hanya bukan pada situasi nkelas pembelajaran sebenarnya. Oleh karena itu peru kedisiplinan setiap anggotanya dalam menjalankan perannya masing-masing.
A. Evaluasi dan tindak lanjut
Tujuan evaluasi disini adalah untuk mendapatkan masukan (umpan balik) terutama bagi setiap peserta yang berlatih, kelebihan dan kekurangan serta komentar dari pihak yang mengobservasi.
Dalam proses evaluasi ini meliputi tiga kegiatan yaitu.
1. pemutaran ulang
pemutaran ulang dilakukan terutama bila dalam proses latihan menggunakan alat perekam kamera video.
1. komentar/diskusi umpan balik
Dalam tahapan ini tidak hanya kekuranganya saja dari latihan tersebut tetapi juga hal-hal yang sudah diangap baikpun disampaikan, dddengan demikian hendaknya komentar bersifat seimbang.
Jumat, 19 November 2010
Tool untuk memperbaiki flashdisk yang rusak
Dalam beberapa kasus kerusakan pada flashdisk, ada 2 jenis kasus kerusakan yang terjadi pada flashdisk, yang pertama flashdisk tersebut memang sudah rusak di karenakan komponen nya memang sudah ada yang terganggu, tetapi ada juga kasus kerusakan pada flashdisk yang kerusakan tersebut terletak pada software nya.
Nah, untuk kasus yang kedua yaitu kerusakan flashdisk yang terletak pada kerusakan software nya ini merupakan kasus yang biasanya terjadi pada kebanyakan flashdisk, dan biasanya flashdisk tersebut langsung di buang oleh si pemilik nya.
Sebenarnya ada beberapa cara untuk membetulkan flashdisk yang rusak yang di sebabkan oleh kerusakan yang terletak pada software flashdisk tersebut. berikut ini adalah cara-cara nya :
1. download software Hp drive boot utility melalui link ini
2. instal software yang telah di download.
3. pasang flashdisk anda ke komputer
4. jalankan aplikasi yang sudah di instal tadi
5. Pilih tipe format disk yang mau di gunakan (FAT, FAT32 atau NTFS)
6. Pilih Quick Format
7. Pilih Create New or Replace Existing Configuration
Dalam beberapa kasus memang ada yang berhasil ada juga yang tidak, itu tergantung dari letak kerusakan, jika memang terletak pada software flashdisk tersebut maka flashdisk pun dapat di gunakan kembali.
Tetapi bila letak kerusakan pada komponen nya, maka kerusakan tersebut tidak dapat dibetulkan dengan cara ini.
PENGEMBANGAN PROGRAM AUDIO
A. Langkah Pengembangan Program Audio
Agar Program berhasil dan sesuai dengan apa yang diharapkan maka perlu kita persiapkan naskah program dengan baik. Hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam menulis naskah program adalah :
1. Perencanaan
a. Pemilihan topic program
b. Menganalis sasaran audience
c. Merumuskan tujuan
d. Menetukan pokok-pokok materi
e. Menetukan format naskah
f. Mengambangkan treatment
g. Menulis naskah
2. Produksi
a. Mempelajari Naskah
b. Memperbanyak Naskah
c. Pemilihan pemain
d. Penyerahan naskah kepada pemain untuk di pelajari
e. Menghubungi studio
f. Memilih musik dan sound efek yang sesuai dengan naskah.
g. Latihan
a) Latihan kering / di luar studio tanpa peralatan
b) Latihan basa dengan peralatan yang diperlukan tetapi belum di rekam.
h. Perekaman
3. Revisi
B. STUDIO REKAM PROGRAM AUDIO
Sebuah studio pada dasarnya terdiri atas dua ruang yaitu Ruang Rekam dan Ruang Kontrol. Ruang rekam merupakan ruangan untuk diamana narator atau pemain membaca naskah dan ruang control merupakan tempat bekerjanya operator (mengoperasikan peralatan rekam) dengan didampingi oleh seorang sutradara atau prosedur yang bertanggung jawab atas jalannya proses perekaman sehingga dihasilkan sebuah master program audio.
Kedua ruangan ini dibatasi satu sama lain oleh sebuah dinding yang mempunyai jendela kaca dengan kontruksi khusus, sehingga diharapkan tidak ada kebocoran suara dari ruang control. Ruang rekam yang ideal adalah mampu meerduksi semaksimal mungkin gangguan dari suara-suara yang tidak diinginkan dari ruangan sehingga tidak mengganggu pada saat rekaman.untuk itu perlu di desain dan di buat ruang rekam dengan kontruksi baik dimana penggunaan dinding dengan kontruksi “Double Wall”.
Disamping itu perlu juga diperhatikan hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi dan ruangan yang akan digunakan sebagai studio rekam, sebagai berikut :
1. Jangan terlalu dekat dengan jalan raya
2. Jangan terlalu dekat dengan lapangan terbang
3. Jangan terlalu dekat dengan pabrik
4. Jangan terlalu dekat dengan ruang reproduksi (percetakan)
5. Tidak bersebelahan dengan tangga antar lantai (jika bangunan bertingkat)
6. Tidak bersebelahan dengan kamar mandi ataupun Kamar Kecil.
C. SISTEM AKUSTIK RUANG REKAM
Pada dasarnya ada dua jenis suara yang dapat kita dengar setiap hari dan setiap saat pada berbagai keadaan dan tempat. Dua jenis suara tersebut dalam teknik audio adalah Wet Sound dan Dry Sound. Jenis suara wetsound ditemui apabila seseorang berbicara di sebuah ruangan kosong yang mempunyai dinding tembok, lantai ubin dan plafon asbes semen, maka suara orang tadi akan terdengar bergaung, sehingga kata-kata yang akan di ucapkannya tidak jelas. Berbeda apabila orang tersebut bernyayi, maka suaranya akan terdengar lebih baik daipada suara yang aslinya. Gaung tadi ditimbulkan oleh suara yang ditimbulkan oleh suara yang dikeluarkan, dipantulkan oleh permukaan dinding, lantai dan plafon. Yang keras. Suara jenis inilah disebut Wet Sound. Sedangkan suara yang kita dengar langsung dari sumber tanpa tambahan pantulannya disebut Dry Sound.
Dalam sebuah ruang rekam suara yang kita inginkan adalah gabungan kedua jenis suara tersebut. Oleh karena itu dalam ruang studio rekam perlu diberi system akustik yang dalam hal ini yang terutama bahan peredam (absorter) suara pada dinding, plafon maupun pada lantainya.
D. PENYIAR RADIO
Sehubungan dengan pengembangan program audio, hal yang penting juga diketahui adalah penyiar radio. Karena bagaimanapun bagusnya format program audio apabila penyiar radio itu sendiri tidak professional dan cakap maka efektifitas program itu tidak akan tercapai.
Syarat-syarat menjadi penyiar radio adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan dan pengalaman hidup yang luas di tengah masyarakat.
2. Intelegensi
3. Rasa Humor
4. Sabar
5. Imajinasi
6. Antusiasme
7. Kerendahan hati yang tumbuh dari jiwa yang murni
8. kesanggupan bekerja sama dalam kelompok
Penyiar Radio tidak menekankan pencerminan keakuannya dan tidak pula perlu mengeluarkan suara seperti actor di panggung sehingga suaranya kedengaran jauh dibelakang. Cara atau gaya seorang penyiar haruslah ramah, tenang dan berkepribadian, namun dengan peralatan elekrtonik yang rumit pesan penyiar sanggup menjangkau jumlah pendengar.
E. PERALATAN AUDIO
Peralatan yang dipergunakan untuk menyajikan program audio ataupun untuk menerima siaran radio (program audio yang dipancarkan lewat pemancar radio), ada beberapa jenis. Masing-masing jenis dibuat untuk tujuan tertentu, baik untuk pemakaian ruangan yang sempit maupun untuk ruangan yag luas (kelompok Besar). Apabila dikelompokan maka peralatan penyaji program audio ataupun penerima siaran radio, ada dua kelompok yakni :
1. Radio perekam kaset audio (Radio Cassette recorder portable)
Radio perekam kaset audio ini menguntukan dalam pemakaian Karena bisa menerima siaran yang dipancarkan dari stasiun pemancar radio dan bisa digunakan untuk memutar program audio dalam bentuk kaset. Keuntungan lainnya ialah Radio perekam kaset audio ini bisa untuk merekam siaran radio yang sedang didengarkan, sehingga bisa diputar pada kesempatan yang lain apabila di butuhkan.
Radio perekam kaset audio ini pada umumnya mempunyai beberapa wilayah frequensi, antara lain :
FM : 87,5 -108 MHz
SW2 : 7,0 – 22MHz
SW 1 : 2,3 – 7,0MHz
MW : 530 – 1650MHz
Yang paling banyak digunakan di Indonesia ialah wilayah frekuensi MW dan SW1. Radio perekam kaset audio ini bisa menggunkan tenaga baterai 9V (DC) ataupun sumber listrik PLN 110/220 V.
2. Radio dan Perekam kaset audio dengan tambahan, penguat suara (amplifier) dan loudspeaker.
Untuk keperluan pemaiakain (penyajian program) di sebuah ruangan yang besar, maka diperlukan sebuah system tata suara yang mempunyai daya besar. Satu unit peralatan suara ini terdiri dari :
1) Peralatan Reproduksi Suara, yaitu :
Ø Tuner
Ø Open Real
Ø Perekam kaset audio
2) Peralatan penguat suara, yaitu :
Ø Amplifier
3) Peralatan pengeras suara, yaitu :
Ø Loudspeaker
3. Perekam Kaset AUDIO-SINKRON
Selain jenis kaset yang telah dibicarakan di depan, ada satu jenis cassette recorder yang khusus sibuat untuk kelengkapan penyajian film bingkai bersuara (Sound Slide) secara otomatis. Perekam kaset audio sinkron ini dilengkapi dengan head control sinyal, sehingga bisa menerima meneruskan perintah-perintah yang diberikan oleh pita (kaset ) lewat sinyal-sinyal yang telah sirekam sebelumnya dengan menggunakan synchrocerder ini pula, ke proyektor film bingkai.
Selasa, 26 Oktober 2010
REMAJA DAN PERKEMBANGANNYA
A. Pengertian pertumbuhan Dan Perkembangan
Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinu, yaitu kedua proses ini berlangsung secara interdenpendensi, artinya saling bergantung satu sama lain. Kedua proses ini tidak bisa di pisahkan dalam bentuk-bentuk yang secara pilah yang berdiri sendiri-sendiri, akan tetapi bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya.
Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal kepada anak yang sehat, dalam perjalanan waktu tertentu.
Hasil pertumbuhan antara lain berwujud bertambahnya ukuran-ukuran kuantitatif badan anak, seperti panjang, berat dan kekuatannya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses perubahan dan proses pematangan fisik.
Perbedaan kecepatan tumbuh masing-masing bagian tubuh mengakibatkan adanya perbedaan dalam proporsi tubuh dan juga menimbulkan perbedaan dalam fungsinya. Contoh : misalnya pertumbuhan indra penglihatan atau mata lebih cepat daripada pertumbuhan otot-otot tangan dan kaki.
Factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme ada bermacam-macam, yaitu :
Pertama, factor-faktor yang terjadi sebelum lahir. Misalnya kekurangan nutrisi pada ibu dan janin ;janin terkena virus, keracunan sewaktu bayi ada dalam kandungan.
Kedua, factor ketika lahir atau saat kelahiran. Factor ini antara lain adalah intracranial haemorage atau pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan oleh tekanan dari dinding ibu rahim ibu sewaktu ia dilahirkan.
Ketiga, factor yang dialami bayi setelah lahir, antara lain oleh karena pengalamn traumatic pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala bayi terpukul.
Keempat, factor psikologis antara lain oleh karena bayi ditinggalkan ibu, ayah atau kedua orang tuanya. Anak-anak tersebut mengalami kehampaan psikis , kering dari perasaan sehingga mengakibatkan kelambatan pertumbuhan pada semua fungsi jasmaniah.
Spiker (1966) mengemukakan dua macam pengertian yang harus dihubungkan dengan perkembangan, yakni :
1) Ortogenetik, yang berhubungan dengan perkembangan sejak terbentuknya individu yang baru dan seterusnya sampai dewasa.
2) Filogenetik, yakni perkembangan dari asal-usul manusia sampai sekarang ini. Perkembangan Ortogenetik mengarah ke suatu tujuan khusus sejalan dengan perkembangan evolusi yang mengarah pada kesempurnaan manusia.
Perubahan-perubahan meliputi beberapa aspek, baik fisik maupun psikis. Perubahan tersebut dapat dibagi menjadi empat macam kategori utama, yaitu :
1) Perubahan dalam ukuran
2) Perubahan dalam perbandingan
3) Berubah untuk mengganti hal-hal yang lama
4) Berubah untuk memperoleh hal-hal yang baru
B. Tugas-tugas Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu proses yang menggambarkan perilaku kehidupan social psikologis manusia pada posisi yang harmonis di dalam lingkungan masyarakat yang lebih luas dan kompleks. Oleh Havighurst perkembangan tersebut dinyatakan sebagai sebagai tugas yang harus dipelajari, dijalani, dan dikuasai oleh setiap individu dalam perjalanan hidupnya. Pada jenjang kehidupan remaja, seseorang telah berada pada posisi yang cukup kompleks, dimana ia telah menyelesaikan tugas-tugas perkembangannya, seperti mengatasi sifat tergantung pada orang lain, memahami norma dengan teman sebaya.
Tugas-tugas perkembangan tersebut oleh Havighurst dikaitkan dengan fungsi belajar. Karena pada hakikatnya perkembangan kehidupan manusia dipandang sebagai upaya mempelajari norma kehidupan dan budaya masyarakat.
Makna dewasa dapat diartikan dari berbagai segi, sehingga dikenal istilah dewasa secara fisik, secara social, secara psikologis, dewasa menurut hokum, dan sebagainya. Jenis tugas orang remaja itu pada dasarnya mencakup segaal persiapan diri untuk memasuki jenjang dewasa, yang intinya bertolak dari tugas perkembangan fisik dan tugas perkembangan sosio-psikologis. Havighurst mengemukakan 10 jenis tugas perkembangan remaja, yaitu:
1) Mencapai hubungan dengan teman lawan jenisnya secara lebih memuaskan dan matang
2) Mencapai perasaan seks dewasa yang diterima secra social
3) Menerima keadaan badannya dan menggunakan secra efektif
4) Mencapai kebebasan emosional dari orang dewasa
5) Mencapai kebebasan ekonomi
6) Memilih dan menyiapkan suatu pekerjaan
7) Menyiapkan perkawinan dan kehidupan keluarga
8) Mengembangkan keterampilan dan konsep intelektual yang perlu bagi warga Negara yang kompeten
9) Menginginkan dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara social
10) Menggapai suatu perangkat nilai yang digunakan sebagai pedoman tingkah laku.
Memasuki jenjang dewasa, telah terbayang berbagai hal yang harus dihadapi. Bukan saja menghadapi hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan fisik, social, dan ekonomi, tetapi juga menghadapi tugas yang berkaitan dengan factor psokologis, seoperti pencapaian kepuasan, persaingan, kekecewaan, dan perang batin yang bisa terjadi karena perbedaan norma masyarakat dalam system kehidupan social dan kata hati setiap individu.
C. Hukum-hukum pertumbuhan dan perkembangan
Bagi setiap makhluk hidup, sejak kelahiran dan dalam menjalani kehidupan seterusnya terdapat dasar-dasar dan pola-pola kehidupan yang berlaku umum sesuai jenisnya. Pola-pola ini mempunyai arti yang universal yang bisa berlaku dimana-mana.
Hukum-Hukum perkembangan, antara lain :
1. Hukum Cephalocoudal
Hukum ni berlaku pada pertumbuhan fisik dimulai dari kepala kearah kaki. Misalnya, seorang bayi yang baru dilahirkan mempunyai bagian-bagian dan alat-alat pada kepala yang lebih matang daripada pada bagian tubuh lainnya.
2. Hukum Proximodistal
Hukum Proximodistal adalah hukum yang berlaku pada pertumbuhan fisik, dan menurut hukum ini p[ertumbbuhan fisik berpusat pada sumbu dan mengarah ke tepi. Alat-alat tubuh yang terdapat di pusat adalah jantung, hati, dan alat-alat pencernaan yang lebih dulu berfungsi daripada anggota tubuh yang ada di tepi.
3. Perkembangan terjadi dari umum ke khusus
Pada setiap aspek tejadi proses perkembangan yang dimulai dari hal-hal yang umum, kemudian secara sedikit demi sedikit menigkatkan ke hal-hal yang khusus. Terjadi proses diferensiasi seperti dikemukakan oleh Werner. Anak lebih mampu menggerakkan lengan atas, lengan bawah, tepuk tangan terlebih dahulu daripada menggunakan jari-jari tangannya.
4. Perkembangan berlangsung dalam tahapan-tahapan perkembangan
Dalam perkembangan terjadi penahapan yang terbagi-bagi kedalam masa-masa perkembangan. Contoh penahapan dalam perkembangan manusia itu antara lain meliputi : masa pralahir, masa jabang bayi (0-2 minggu), masa bayi (2 Minggu-1 Tahun), masa anak prasekolah (1-5 tahun), masa sekolah (6-12 tahun), masa remaja (13-21 tahun), masa dewasa (21-65 tahun), dan masa tua (65 tahun keatas).
5. Hukum Tempo dan Ritme Perkembangan
Tahapan perkembangan berlangsung secara berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan yang relative tetap serta bisa berlaku umum. Justru perbedaan waktu, yaitu cepat lambatnya sesuatau penahapan perkembangan terjadi, atau sesuatu masa perkembangan dijalani, menampilkan adanya perbedaan individu.
Dalam praktek sering terlihat dua hal sebagai petunjuk keterlambatan pada keseluruhan perkembangan mental :
1) Jika kemampuan fisiknya untuk berjalan jauh tertinggal dari patokan umum, tanpa ada sebab khusus pada fungsionallitas fisiknya yang terganggu.
2) Jika perkembangan kemampuan berbicara sangat terlambat dibandingkan dengan anak-anak lain pada masa perkembangan yang sama.
D. Remaja: Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangannya
Istilah asing yang sering dipakai untuk menunjukan makna remaja, antara lain adalah puberteit, adolescentia, dan youth. Dalam bahasa Indonesia sering juga dikaitkan Pubertas atau Remaja. Istilah Puberty(inggris) atau Puberteit (belanda) berasal dari bahasa latin Pubertas yang berarti usai kedewasaan. Istilah ini juga berkaitan dengan kata lain yaitu pubescere yang berarti masa pertumbuhan rambut didaerah tulang “pusic” (diwilayah Kemaluan). Pubescere atau puberty sering diartikan sebagai masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari aspek biologisnya.
Istilah adolescentia berasal adri kata latin: adulescentis. Dengan adulescentia dimaksudkan masa muda. Adolescence menujukan masa yang tercepat antara usia 12-22 tahun dan mencakup seluruh perkembangan psikis yang terjadi pada masa tersebut. Di Indonesia baik istilah pubertas maupun adolescensia dipakai dalam arti umum dengan istilah yang sama yaitu remaja.
1) Remaja Menurut Hukum
Dalam hubungan dengan hukum, tampaknya hanya undang-undang perkawinan saja yang mengenal konsep remaja walaupun tidak secara terbuka. Usia minimal untuk suatu perkawinan menurut UU disebutkan 16 Tahun untuk wanita dan 19 tahun untuk pria (Pasal 7 UU No. 1/1974 Tentang perkawinan).
2) Remaja ditinjau dari sudut perkembangan fisik
Dalam Ilmu kedokteran Dan Ilmu-ilmu yang terkait, Remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya.
3) Batasan Remaja Menurut WHO
Remaja adalah suatu masa pertumbuhan dan perkembangan dimana :
a) Individu berkembang dari saat pertama kail ia menunjukan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual.
b) Individu mengalami perkembangan psikologi dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa.
c) Terjadi peralihan dari ketergantungan social-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relative lebih mandiri
4) Remaja dintinjau dari factor social psikologis
Salah satu cirri remaja di samping tanda-tanda seksualnya adalah perkembangan psikologis dan pada identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Puncak perkembangan jiwa itu ditandai dengan adanya proses perubahan dari kondisi “entropy” ke kondisi “negen-tropy”.
Entropy adalah keadaan dimana kesadaran manusia masih belum tersusun rapi. Walaupun isinya sudah banyak (pengetahuan, perasaan, dan sebagainya). Sedangkan negen-tropy adalah keadaan dimana isi kesadaran tersusun dengan baik, pengetahuan yang satu terkait dengan perasaan atau sikap.
5) Definisi remaja untuk masyarakat Indonesia
Menurut Sarlito (1991), tidak ada profil remaja Indonesia yang seragam dan berlaku secara nasional. Masalahnya adalah karena Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat dan tingkatan social ekonomi, maupun pendidikan.
Bigot, Kohnstam, dan Palland mengemikakan bahwa masa pubertas berada dalam usia 15-18 tahun, dan masa adolescence dalam usia 18-21 tahun. WHO menetapkan batas usia 19-20 tahun sebagai batasan usia remaja.
Seorang remaja berada pada batas peralihan kehidupan anak dan dewasa. Tubuhnya keliahatan sudah dewasa, akan tetapi bila ia diperlakukan seperti orang dewasa ia gagal menunjukan kedewasaannya. Pada remaja sering terliahat adanya :
1. Kegelisahan
2. pertentangan
3. berkeinginana besar untuk mencoba segala hal yang belum duketahuinya
4. keinginan menjelajah kea lam sekitar yang lebih luas
5. menghayal dan berfantasi
6. aktivitas berkelompok
E. Jenis-jenis Kebutuhan dan pemenuhaannya
Kebutuhan dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ;
a) Kebutuhan primer : pada hakikatnya kebutuhan biologis atau organic yang umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli, contoh makan, Minum, bernapas.
b) kebutuhan Sekunder : kebutuha yang didorong oleh motif yang dipelajari, Contoh : mengejar pengetahuan, kebutuhan akan hiburan.
Menurut teori Freud, struktur kepribadian seorang berunsurkan tiga komponen utama, yaitu : id, ego, dan super ego.
1. mengapa manusia berperilaku?
Untuk menjawab pertanyaan ini di gunakan dua pendekatan yaitu, pendekatan Organismik dan pendekatan lingkungan. Banyak pendekatan untuk menganalisis dan mengklasifikasikan kekuatan dari dalam yang menghasilkan gejala yang dimakud dengan tingkah laku.
Beberapa psikolog, seperti Carl rogers (1951), Arthus W. Combs Dan Snygg(1959). Kebutuhan akan keyakinan diri ini diekspresikan melalui dua bentuk perilaku, yaitu kebutuhan mempertahankan diri dan mengembangkan diri.
2. Kebutuhan dasar manusia
Pada bayi atau pada kehidupan manusia kecil, perilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan bilogis, yaitu kebutuhan untuk mempertahankan diri. Kebutuhan ini disebut deficiency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang diperlukan untuk tetap hidup.
Remaja sebagai individu atau manusia pada umumnya juga mempunyai kebutuha dasar tersebut. Menurut Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia itu di dororng oleh berbagai kebutuhan, yaitu :
a) Kebutuhan jasmaniah
b) Kebutuhan psikologis
c) Kebutuhan ekonomi
d) Kebutuhan social
e) Kebutuhan politik
f) Kebutuhan penghargaan
g) Kebutuhan aktualisasi
F. Kebutuhan Remaja, masalah dan konsekuensinya
Masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974 : 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai masa storm and stress. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang akan di hadapi karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya atau kebutuhan aktualisasi diri. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok kebutuhan, yaitu :
1. kebutuhan Organik, yaitu makan, minum, dan bernapas
2. kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk mendapatkan simpati dan pengakuan dari pihak lain, dikenal dengan n’Aff.
3. kebutuhan berprestasi, yang berkembang karena didorong untuk ,mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukan kemampuan psikofisis, dan
4. kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Masalah Dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan dapat diuraikan sebagai berikut :
1. upaya untuk dapat mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa.tidak semuanya dapat dengan mudah dicapai baik remaja lelaki maupun ramaja perempuan.
2. seringkali para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya.
3. perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan ramaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang menetang norma.
4. dalam memasuki kehidupan masyarakat, remaja yang terlalu mendambakan kemandirian. Dalam arti menilai dirinya cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan, kebanyakan akan menghadapi berbagai masalah, terutama masalah penyesuaian emosional, seperti perilaku over acting dan semacamnya.
5. harapan-harapan untuk dapat berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pelihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan.
6. berbagai norma dan nilai yang berlaku didalam hidup bermasyarakat merupakan masalah tersendiri bagi remaja.
Usaha-usaha pemenuhan kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam penyelenggaraan Pendidikan :
Jumat, 22 Oktober 2010
Langganan:
Postingan (Atom)



