Sadar atau tidak, dewasa ini stasiun televisi swasta semakin tumbuh berkembang dengan pesatnya, tidak hanya di perkotaan saja, namun di pedesaan mengalami dampak yang serupa. Sebagai orang tua, seberapa pentingkah mengenalkan televisi kepada anak dan balita anda dan apa saja yang para orang tua perlu ketahui dalam kaitannya dengan wacana ini?
Tidak dapat dipungkiri lagi, berdasarkan fakta yang ada hampir sebagian besar dari masyarakat Indonesia memiliki setidaknya satu unt televisi di rumah masing-masing. Terlebih lagi, kebanyakan dari kita mungkin dapat menghabiskan waktu untuk menonton acara televisi hampir lebih dari sepuluh jam atau bahkan lebih. Karena sungguh, televisi memang benar-benar dibutuhkan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari seluruh pelosok tanah air. Mungkin para orang tua tidak memerlukan apa yang tengah diteliti oleh para ilmuwan tentang pengaruh televisi terhadap anak-anak kita, namun hal-hal berikut ini memang sudah sehasrunya para orang tua tahu:
• Banyak tayangan untuk anak di televisi menampilkan adegan kekerasan, vulgar, atau bahkan cenderung destruktif. Suatu ketika anda ikut menonton film kartun bersama anak atau balita anda, walaupun dikemas sebagai Film bergenre Kartun namun pada kenyataannya masih jauh seperti yang kita harapkan. Contohnya: Sponge Bob, Bugs Bunny, Shinchan dll. Potret realistis yang ada masih banyak menampilkan tindakan kekerasan yang lazimnya dilakukan orang dewasa seperti mencekik, memukul, menembak, membanting atau bahkan keinginan untuk menghancurkan lawan. Hal ini seolah hanya layaknya film untuk orang dewasa yang dikemas melalui kartun. Apabila program seperti ini terus menerus dikonsumsi oleh anak di tiap harinya, bukan tidak mungkin hal ini bakal meningkatkan kecenderungan seorang anak untuk berperilaku kasar di masa depannya.
• Pola berfikir anak-anak belumlah matang. Mereka masih belum dapat membedakan betul dan mengintepretasikan apa-apa yang mereka lihat di layar televisi layaknya kehidupan nyata. Contohnya: anak-anak terutama balita masih banyak yang menafsirkan bahwa karakter/tokoh yang mereka lihat di televisi adalah tokoh benar-benar hidup di dalam televisi mereka. Hal ini bisa memperburuk persepsi anak dan membingungkan mereka dalam mempelajari apa-apa yang nyata dan tidak nyata yang ada di dunia ini. Suatu ketika hal ini bisa menumbuhkan gambaran rasa takut, trauma, dan bahkan menjadikan hal yang dianggap berlawanan dari sudut pandang seorang anak. Untuk itulah orang tua benar-benar harus dapat memberikan dampingan dan penjelasan agar anak dan balita anda mengerti betul sesuai daya tangkap mereka.
• Menonton televisi bisa menjadikan seorang anak kecanduan atau adiktif. Semakin seorang anak sering menonton televisi, maka akan semakin besar pula keinginannya untuk melihat lagi. Pernakah anda perhatikan? seorang bayi pun suatu ketika benar-benar dibuat tidak mau memalingkan pandangan matanya dari layar kaca, terutama jika acara yang berlangsung sangat membuat dirinya penasaran dan ingin tahu. Bahkan ketika mereka mulai kecanduan, jika kita mematikan TV saat mereka masih asyik menonton bisa membuat mereka marah, menangis, atau bahkan ngambek juga. Anak yang menonton TV secara berlebih akan cenderung pasif dan secara alamiah akan kehilangan daya kreatifitas mereka. Waktu yang seharusnya bisa mereka gunakan untuk bermain, menjadi terbuang dihabiskan di depan layar televisi.
• Dan memang, kadangkala kita sebagai orang tua mulai menjadikan media TV sebagai "cara pintas" untuk membuat anak-anak merasa nyaman, gembira dan tidak menangis. Jika kita menggunakan jasa Baby-sitter atau pengasuh anak, terutama di kota besar, seringkali televisi seakan menjadi cara ampuh dalam melewati kesehari-harian tanpa suara rengekan dan tangisan. Cukup menyalakan program acara kartun atau menyalakan DVD maka anak akan dengan mudahnya terhipnotis dalam acara yang dilihatnya itu.
• Anak yang sering melihat TV dalam kesehariannya, secara berlebihan, akan sangat mungkin akan beresiko terkena obesitas, perkembangan sosial yang buruk, dan bahkan mungkin mempengaruhi perilakunya menjadi egois. Dalam kelanjutannya nanti di masa akan memasuki Playgroup atau ketika memasuki Taman Kanak-Kanak, secara emosional akan mudah murung, susah bersosialisasi, susah merespon dan menangkap pelajaran yang disampaikan bila dibandingkan mereka yang sedikit mengkonsumsi Televisi atau bahkan tidak sama sekali.
Jika kita bicara perlu atau tidaknya seorang anak dikenalkan kepada TV, mungkin akan berbeda sesuai dengan kebutuhan dan peran kita sebagai orang tua yang ternyata sangat berpengaruh besar pada perkembangan anak. Mungkin kita juga perlu memperhatikan sedikit tips yang dapat meminimalisir efek negatif yang mungkin terjadi dan memaksimalkan peran positif televisi untuk buah hati kita:
• Tunda dulu mengenalkan TV kepada balita anda sebisa mungkin. Ada baiknya jika menginjak sekitar usia dua tahun barulah anda mengenalkan si kecil pada televisi. Namun jika pada kenyataannya, memang, tidak mungkin bisa melarang anak melihat TV, maka sebaiknya kita jeli betul memilih program acara untuk anak, juga membatasi waktu untuk menonton televisi atau bahkan membuatnya melupakan televisi di tiap harinya. Semakin sedikit waktu untuk televisi akan semakin baik, dan tujuan anda tercapai. Kalau perlu buat jadwal untuk melihat TV, misalnya 30 menit atau sejam perhari, atau untuk acara favoritnya saja, sehingga kita tidak akan menyalakan TV terlalu sering buat buah hati kita.
• Untuk lebih baiknya anda sempatkan dulu untuk menonton acara di TV sebelum anda membolahkan anak-anak anda melihatnya. Walaupun acara untuk anak disengaja untuk memberikan pesan moral yang baik kepada kita, namun lebih baiknya kita memberikan pengertian yang cukup pada anak. Juga, secara kontinyu memberikan dampingan atau ikut melihat bersama anak/balita anda, karena memang ditemukan banyak sekali acara TV yang tak sesuai dengan porsi anak-anak, terutama tentang kekerasan.
• Beri perhatian lebih terhadap iklan yang muncul di TV. Karena pada suatu saat iklan pun juga memberi pengaruh besar kepada anak untuk menjadi terbiasa menirukan apa yang ada di iklan tersebut.
• Pilihlah program acara yang benar-benar untuk anak, yang dapat membantu meningkatkan daya kreatifitas dan imajinya. Bagi kita mungkin akan sangat terasa membosankan dalam waktu yang mungkin lama pula dengan mengikuti apa yang diinginkannya. Tetapi hal yang terpenting, lihatlah seolah kita melakukannya dari sudut pandang seorang anak.
• Jika memang dirasa perlu, lengkapilah koleksi VCD atau DVD anda dengan program untuk anak yang mendidik. Jadi jika kapanpun anda inginkan, anda dapat mengarahkan anak-anak untuk melihat program untuk anak yang sudah terjadwal, kapanpun mau melihatnya. Sehingga, dapat menjauhkan anak dari melihat acara-acara TV yang tidak perlu.
Sekali lagi dampingilah putra-putri anda menonton TV, jadi anda dapat melihat apa reaksi langsung dari anak dan balita anda. Ajukan pertanyaan kalau perlu, dan ikut mendiskusikan juga dengan mereka. Buatlah satu keputusan tepat tentang bagaimana anda sebagai seorang Orang tua menggunakan Televisi secara bijak terhadap keluarga anda, jangan memposisikan wacana ini hanya karena terpaksa atau kebetulan semata.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar